Koruptor, Kafir ?

  • Whatsapp
Dalam tatanan hukum positifkorupsi banyak ragamnya, mulai dari suap, gratifikasi, penggelapan, pemalsuan, dan yang lainnya.  Korupsi adalah perilaku negatif yang dicela Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, dicela semua peradaban manusia, karena termasuk perbuatan khianat dan kecurangan yang merugikan masyarakat banyak. Banyak nash yang mencela dan mengancam perilaku koruptif, di antaranya : Allah Ta’ala berfirman: وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berbuat ghulul (khianat) dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu” [QS. Ali ‘Imran : 161]. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ayat di atas merupakan ancama yang keras dan tegas dari Allah Ta’ala terhadap perbuatan ghulul (khianat/korupsi) [Tafsiir Ibni Katsir, 2/151]. عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ الْوَبَرَةَ مِنْ جَنْبِ الْبَعِيرِ مِنَ الْمَغْنَمِ، فَيَقُولُ: ” مَا لِي فِيهِ إِلَّا مِثْلُ مَا لِأَحَدِكُمْ مِنْهُ، إِيَّاكُمْ وَالْغُلُولَ، فَإِنَّ الْغُلُولَ خِزْيٌ عَلَى صَاحِبِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Dari Ubaadah bin ash-Shamit bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambil bulu onta dari perut onta ghanimah, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sedikit yang aku ambil dari (harta rampasan perang) ini, tak lain seperti yang diambil oleh salah seorang dari kalian. Jauhilah perbuatan ghulul (khianat/korupsi), karena perbuatan ghulul adalah kehinaan bagi pelakunya pada hari kiamat….” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid al-Musnad 5:330; dihasankan oleh al-Arna’uth dkk. dalam Takhrij Musnad al-Imam Ahmad 37:455-456 no. 22795]. Dalam lafadz lain : لَا تَغُلُّوا فَإِنَّ الْغُلُولَ نَارٌ وَعَارٌ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ “Janganlah kalian berbuat ghulul, karena perbuatan ghulul tempatnya di neraka dan merupakan aib bagi pelakunya di dunia dan akhirat” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawaaid Al-Musnad 5/316; dihasankan oleh al-Arna’uth dkk. dalam Takhriij Musnad Al-Imaam Ahmad 37/371-372 no. 22699]. قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ، أَقْبَلَ نَفَرٌ مِنْ صَحَابَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: فُلَانٌ شَهِيدٌ، فُلَانٌ شَهِيدٌ، حَتَّى مَرُّوا عَلَى رَجُلٍ، فَقَالُوا: فُلَانٌ شَهِيدٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” كَلَّا إِنِّي رَأَيْتُهُ فِي النَّارِ فِي بُرْدَةٍ غَلَّهَا أَوْ عَبَاءَةٍ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، اذْهَبْ فَنَادِ فِي النَّاسِ، أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ، قَالَ: فَخَرَجْتُ، فَنَادَيْتُ، ” أَلَا إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ “ Umar bin al-Khaththab menuturkan, “Ketika perang Khaibar berlangsung, sekelompok shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap beliau dan berkata ‘Fulan mati syahid, Fulan mati syahid’, hingga ketika mereka melewati seseorang pun mereka juga berkata : ‘Fulan mati syahid, Fulan mati syahid’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekali-kali tidak. Sesungguhnya aku melihatnya di neraka dengan sebab kain burdah atau ‘abaa-ah yang ia ambil secara khianat (ghulul)”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Ibnul-Khaththab, pergilah dan serulah kepada orang-orang bahwasannya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang mukmin”. Maka ‘Umar berkata, “Aku pun berseru, ‘Ketahuilah, bahwasannya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang mukmin” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 114]. عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ مَاتَ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلَاثٍ: الْكِبْرِ، وَالْغُلُولِ، وَالدَّيْنِ، دَخَلَ الْجَنَّةَ” Dari Tsauban ia berkata, Rasulullah bersabda shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang meninggal dan ia berlepas diri dari tiga hal, yaitu : sombong, ghulul (khianat/korupsi), dan hutang; maka dijamin masuk surga” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy no. 1572; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, 2/197-198]. عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ “ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang kami pekerjakan dengan satu pekerjaan dan kami upah ia (atas pekerjaan yang ia lakukan), maka harta apapun yang ia ambil selebih dari itu adalah ghulul (korupsi)” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2943; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud,2:230]. عَنْ عَدِيِّ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ Dari ‘Adi bin ‘Amirah al-Kindiy, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian yang kami pekerjakan dengan satu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan sebatang jarum atau yang lebih dari itu, maka itu termasuk ghulul (korupsi) yang akan dibawanya di hari kiamat….” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1833]. أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، قَالَ: ” لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، (Dari) Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di tengah-tengah kami lalu menyebutkan tentang permasalahan ghulul (pengkhianatan/korupsi). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya sebagai sesuatu yang besar lagi penting, lalu bersabda, “Sungguh aku akan menjumpai salah seorang di antara kalian pada hari kiamat yang di lehernya dipikulkan kambing yang mengembik dan di lehernya dipikulkan kuda yang meringkik, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku’. Aku berkata, ‘Aku tidak punya wewenang sedikitpun dari Allah untuk menolongmu. Semuanya telah aku sampaikan kepadamu’. Dan orang yang di lehernya dipikulkan onta yang menderum berkata, ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku’. Aku pun berkata, ‘Aku tidak punya wewenang sedikitpun dari Allah untuk menolongmu. Semuanya telah aku sampaikan kepadamu’. Dan orang yang di lehernya dipikulkan emas dan perak berkata‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku’. Aku pun berkata, ‘Aku tidak punya wewenang sedikitpun dari Allah untuk menolongmu. Semuanya telah aku sampaikan kepadamu’. Dan orang yang di lehernya terdapat lembaran kertas yang melambai-lambai berkata, ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku’. Aku pun berkata, ‘Aku tidak punya wewenang sedikitpun dari Allah untuk menolongmu. Semuanya telah aku sampaikan kepadamu” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3073]. عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الْأُتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: هَذَا لَكُمْ، وَهَذَا أُهْدِيَ لِي، قَالَ: فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ، فَيَنْظُرَ يُهْدَى لَهُ أَمْ لَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ، ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطَيْهِ، اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ، اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثًا “ Dari Abu Humaid as-Sa’idi radliyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperkerjakan seseorang dari suku al-Azd yang bernama Ibnul-Utbiyyah untuk menarik zakat. Ketika ia datang (dari pekerjaannya itu), ia berkata : “Ini adalah harta kalian, dan ini adalah harta yang dihadiahkan untukku”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya ia duduk saja di rumah ayah atau ibunya, maka lihatlah, apakah ia akan diberikan hadiah ataukah tidak. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun yang mengambil harta (suap) itu sedikitpun juga, kecuali ia akan datang pada hari kiamat dengan memikul harta suap itu di lehernya yang mungkin berupa onta yang menderum, sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik,” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya hingga kami melihat putih ketiak beliau, yang bersabda, “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan, Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan” – sebanyak tiga kali [Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2597]. An-Nawawi rahimahullah berkata, وَفِي هَذَا الْحَدِيث : بَيَان أَنَّ هَدَايَا الْعُمَّال حَرَام وَغُلُول ؛ لِأَنَّهُ خَانَ فِي وِلَايَته وَأَمَانَته “Dalam hadis ini terdapat penjelasan bahwa hadiah bagi pegawai adalah haram dan (termasuk) ghulul, karena ia telah berbuat khianat dalam kekuasaan dan amanah yang diberikan kepadanya” [Syarh Shahih Muslim, 6:304]. Banyak contoh dari salaf kita yang shalih bagaimana mereka sangat menjaga diri dari perbuatan ghulul. Sedikit di antaranya adalah yang terdeskripsi dalam riwayat berikut: عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبْعَثُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ رَوَاحَةَ إِلَى خَيْبَرَ، فَيَخْرُصُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ يَهُودِ خَيْبَرَ، قَالَ: فَجَمَعُوا لَهُ حَلْيًا مِنْ حَلْيِ نِسَائِهِمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَذَا لَكَ، وَخَفِّفْ عَنَّا وَتَجَاوَزْ فِي الْقَسْمِ.فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ: يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ، وَاللَّهِ إِنَّكُمْ لَمِنْ أَبْغَضِ خَلْقِ اللَّهِ إِلَيَّ، وَمَا ذَاكَ بِحَامِلِي عَلَى أَنْ أَحِيفَ عَلَيْكُمْ، فَأَمَّا مَا عَرَضْتُمْ مِنَ الرَّشْوَةِ، فَإِنَّهَا سُحْتٌ وَإِنَّا لَا نَأْكُلُهَا، فَقَالُوا: بِهَذَا قَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ. Dari Sulaiman bin Yasar bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke Khaibar, lalu ia menaksir pembagian antara dirinya dan Yahudi Khaibar. Perawi berkata, “Lalu mereka (Yahudi Khaibar) mengumpulkan perhiasan wanita-wanita mereka untuknya. Mereka berkata kepadanya, ‘Ini adalah bagianmu. Berilah keringanan bagi kami dan lebihkanlah bagian kami’.” Maka Abdullah bin Rawahah berkata, “Wahai sekalian orang Yahudi, demi Allah, sesungguhnya kalian termasuk makhluk Allah yang paling aku benci. Namun demikian, hal itu tidak menyebabkan aku berbuat zalim kepada kalian. Adapun sesuatu yang kalian berikan kepadaku itu termasuk risywah (suap/sogokan) dan dosa. Sesungguhnya kami (kaum muslimin) tidak memakannya”. Mereka berkata,  “Dengan ini, tegaklah langit dan bumi.” [Diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’ 3:494-495 no. 1514; sanadnya mursal shahih. al-Arna’uth menjelaskan beberapa jalan yang menyambungkannya, dan kemudian menghasankannya dalam Jaam’ul-Ushuul 4:617 no. 2701. Dishahihkan oleh al-Hilali dalam Takhrij al-Muwaththa’ 3:494-495]. عَنْ فُرَاتِ بْنِ سَلْمَانَ، قَالَ: ” اشْتَهَى عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ التُّفَّاحَ، فَبَعَثَ إِلَى بَيْتِهِ، فَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا يَشْتَرُونَ لَهُ بِهِ، فَرَكِبَ، وَرَكِبْنَا مَعَهُ، فَمَرَّ بِدَيْرٍ، فَتَلَقَّاهُ غِلْمَانٌ لِلدَّيْرَانِيِّينَ، مَعَهُمْ أَطْبَاقٌ فِيهَا تُفَّاحٌ، فَوَقَفَ عَلَى طَبَقٍ مِنْهَا، فَتَنَاوَلَ تُفَّاحَةً فَشَمَّهَا، ثُمَّ أَعَادَهَا إِلَى الطَّبَقِ، ثُمَّ قَالَ: ادْخُلُوا دَيْرَكُمْ، لا أَعْلَمُكُمُ بُعِثْتُمْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِي بِشَيْءٍ، قَالَ: فَحَرَّكْتُ بَغْلَتِي، فَلَحِقْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، اشْتَهَيْتَ التُّفَّاحَ فَلَمْ يَجِدُوهُ لَكَ، فَأُهْدِيَ لَكَ فَرَدَدْتَهُ، قَالَ: لا حَاجَةَ لِي فِيهِ، فَقُلْتُ: أَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، يَقْبَلُونَ الْهَدِيَّةَ؟ قَالَ: إِنَّهَا لأُولَئِكَ هَدِيَّةٌ، وَهِيَ لِلْعُمَّالِ بَعْدَهُمْ رِشْوَةٌ “ Dari Furat bin Salman, ia berkata, “’Umar bin ‘Abdil-‘Aziz pernah menginginkan buah apel. Maka ia mengutus seseorang ke rumahnya, namun utusan itu tidak mendapatkan uang untuk membelikan apel untuknya. Ia pun menaiki tunggangannya, dan kami pun menaiki tunggangan kami bersamanya. Kemudian ia melewati sebuah biara. Ada dua orang penghuni biara menemuinya dengan membawa beberapa nampan yang berisi apel. Lalu ia berhenti di salah satu nampan dan mengambil apel lalu menciumnya. Kemudian ia mengembalikan apel itu ke nampan, seraya berkata, “Masuklah kalian ke biara kalian. Aku tidak mengenal kalian. Kalian telah mengutus seseorang kepada salah seorang shahabatku dengan membawa sesuatu”. Perawi berkata, Lalu aku pun menggerakkan keledaiku berjalan mendekatinya. Aku berkata, “Wahai AmirulMukminin, engkau tadi menginginkan apel, namun mereka tidak mendapatkan sesuatu (untuk membelinya) buatmu. Kemudian dihadiahkan apel untukmu, namun engkau menolaknya”. Ia berkata, “Aku tidak membutuhkannya”. Aku berkata, “Bukankah dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan ‘Umar menerima hadiah?” Ia menjawab, “Hal itu bagi mereka adalah hadiah, dan bagi para pemimpin setelahnya adalah suap.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d, 5:188; sanadnya shahih]. Semua orang ‘gregetan’ dengan korupsi dan koruptor. Sayangnya, ada beberapa oknum yang berlebih-lebihan menyikapinya hingga menghukumi kafir bagi pelaku korupsi. Benar jika dikatakan bahwa korupsi itu termasuk dosa besar sebagaimana nash-nya telah disebutkan di atas. Namun menjadi tidak benar jika korupsi termasuk perbuatan kufur akbar yang menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam.

Related posts