Penyibak Misteri Virus Korona di Wuhan, Shi Zhengli, ”Perempuan Kelelawar”

  • Whatsapp

Dedikasi belasan tahun meneliti virus korona pada kelelawar telah membuat Shi Zhengli jadi andalan China dalam menginvestigasi virus korona di Wuhan yang kemudian menjadi penyebab Covid-19. mk-center,com | 26 Maret 2020 08:15 WIB |1.050.000 Views WUHAN INSTITUTE OF VIROLOGY Shi Zhengli ketika melakukan penelitian di goa kelelawar tahun 2004. Sampel misterius tiba di Institut Virologi Wuhan, China, 30 Desember 2019, pukul 19.00. Sesaat kemudian, telepon Shi Zhengli berdering. Ternyata direktur institut itu atau pimpinan Shi, yang menelepon. ”Tinggalkan apa pun yang sedang kamu lakukan dan kerjakan ini dulu,” perintah sang bos, seperti disampaikan Shi. Saat itu, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Wuhan telah mendeteksi adanya dua pasien rumah sakit dengan gejala pneumonia yang diduga terinfeksi virus korona. Direktur Institut Virologi Wuhan ingin Shi menginvestigasi temuan tersebut. Saat itu, Shi masih berada di Shanghai untuk menghadiri sebuah konferensi. Ia berharap bisa segera pulang ke Wuhan dengan kereta tercepat. ”Saya berharap (otoritas kesehatan di Wuhan) keliru,” ujarnya, seperti dimuat Scientific American, Rabu (11/3/2020). ”Saya tidak pernah mengira hal seperti ini terjadi di Wuhan, di wilayah tengah China.” Baca juga: Virus Jenis Baru Merebak di Wuhan Berdasarkan studi Shi selama ini, justru wilayah selatan China yang subtropis, seperti Guangdong, Guangxi, dan Yunnan, memiliki risiko paling besar terjadinya infeksi virus korona dari hewan ke manusia, terutama dari kelelawar yang jadi reservoir banyak virus.

Lenggang, Jalan di kota Wuhan
Selama perjalanan di kereta pada 30 Desember 2019 itu, Shi berdiskusi dengan rekannya sesama peneliti untuk menentukan cara bagaimana agar segera memeriksa sampel yang dikirim dari rumah sakit di Wuhan. Dalam minggu-minggu berikutnya yang penuh tekanan, ”bat woman (perempuan kelelawar)” dari Wuhan—julukan yang kini disematkan pada Shi—merasa sedang berjuang dalam mimpi buruknya meski ia telah mempunyai asam garam selama 16 tahun. Teliti sampel virus Dengan menggunakan teknik reaksi berantai polimerase (polymerase chain reaction/PCR), Shi mendapati bahwa lima dari tujuh sampel yang dites memiliki sekuens genetik virus korona. Shi kemudian memerintahkan timnya mengulang proses PCR, dan pada waktu yang sama ia mengirim sampel itu ke laboratorium lain untuk diperiksa. Saya tidak pernah mengira hal seperti ini terjadi di Wuhan, di wilayah tengah China. Sementara itu, Shi membaca kembali semua arsip pekerjaannya dalam lima tahun terakhir di laboratoriumnya untuk memeriksa kembali, apakah ada yang keliru dalam menangani sampel, terutama selama membuang sampel. Akhirnya ia bernapas lega ketika menemukan bahwa hasil sekuens genetika sampel dari Wuhan menunjukkan tidak ada satu pun yang cocok dengan sampel virus korona yang pernah ia tangani sebelumnya.

Related posts