Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor

  • Whatsapp

Tingkatan Dosa Korupsi Lebih Rendah daripada Dosa Syirik

Sebagaimana yang telah kita ketahui, dosa syirik (akbar) adalah dosa yang paling besar tingkatannya di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ » ثَلاَثًا . قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ «الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ » “Maukah aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar?” Beliau mengucapkan pertanyaan ini sebanyak tiga kali. Para sahabat menjawab,”Tentu wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda,Syirik kepada Allah, dan durhaka kepada orang tua, …” [1] Kemusyrikan (syirik akbar) juga merupakan salah satu pembatal Islam (nawaqidhul Islam). Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun.”(QS. Al-Maidah [5]: 72) Di dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala tegaskan bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa syirik jika pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggal dunia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang tingkatannya di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48) Menyadari hal ini, maka tujuan utama setan menggoda dan menyesatkan manusia adalah agar manusia terjerumus ke dalam kemusyrikan karena yang dicari oleh setan adalah “teman” yang abadi di akhirat, yaitu di neraka. Hal ini tidaklah mungkin dicapai kecuali menjerumuskan mereka ke dalam kemusyrikan dan kekafiran yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. [2] Adapun dosa-dosa besar yang lainnya, seperti zina, mencuri, dan termasuk juga korupsi, maka levelnya masih berada di bawah dosa syirik, dan masih ada kemungkinan Allah Ta’ala ampuni di akhirat kelak, meskipun pelakunya belum bertaubat ketika meninggal dunia. Maka sungguh aneh ketika kita dapati kampanye besar-besaran melawan korupsi, dan menjadikannya sebagai program utama penegakan hukum, namun kita lupa (atau pura-pula lupa) terhadap dosa kesyirikan. Sampai-sampai, dosa korupsi itu diposisikan seolah-olah lebih besar tingkatannya dibandingkan dosa syirik. Kemusyrikan dibiarkan dan ditoleransi, dan hanya korupsi yang diberantas. Realita yang sangat menyedihkan di antara kaum muslimin, kita lihat betapa marahnya mereka ketika melihat dosa korupsi diberitakan. Namun, hati siapakah yang marah dan murka ketika melihat hak Allah Ta’ala dilanggar dengan adanya kesyirikan? Marahkah kita ketika melihat kubur wali disembah, ketika nasi tumpeng dijadikan rebutan untuk diambil berkahnya, dan paranormal yang bebas beraksi di televisi? Sayangnya, bukannya marah, justru kita sendiri yang ikut larut menyaksikan acara-acara tersebut di televisi tanpa muncul rasa marah sedikit pun. Demikianlah, kemarahan dan kebencian hati kita ketika melihat kesyirikan mungkin masih kalah jauh daripada rasa marah kita ketika melihat berita tentang korupsi.

Related posts